Senin, 12 Maret 2012

MB Ekor Hitam dari Kepulauan Kecil di sekitar Aceh


  Kadang orang banyak menilai setiap MB Ekor Hitam adalah MB Nias, 

Dengan tulisan saya ini mencoba mengupas Jenis Murai Batu Ekor Hitam ( Black Tailed Shama)

MB Nias kebanyakan berekor hitam mulus, sama seperti MB dari Siemelu (orang Aceh bilang MB Sinabang Cirinya: body agak kecil kepala kecil ekor pendek biasanya ), sama dgn MB Mentawai dan Pulau Pagai (orang Sumbar bilang MB Pagai).MB dari pulau Lasia ( cirinya: bodynya gede ekor agak panjang), Mb pulau lempuyang (Cirinya :dari ke 6 pasang ekornya, 3 dari atas item total, 3 kebawahnya lg ada warna putih berdiameter 1cm pada ujungnya. Mb dari Sabang (cirinya hampir mirip dgn Mb Lempuyang hanya ekor lebih panjang sayang jenis sudah langka) mb Kesemuanya adalah MB kepulauan.


MB Nias kebanyakan berekor hitam mulus tidak ada noda putih


 MB asal Sinabang/ Siemelu terkadang ada totol putih sedikit di ujung ekornya
 


MB asal P. Sabang, Aceh diusia muda ekornya mencapai 23 - 26 cm


MB asal P.Lasia, Aceh . bodi lebih besar dari MB Sinabang/Simelu




MB asal Lempuyang, Aceh susanan ekor putihnya 3 hitamnya 3


MB LAMNO ini bukan termasuk Black Tail
Muda Hutan Murai Batu Lamno di ekor ke 4 masi ada sabit putih diujungnya, apa mb lamno begini semua jenisnya? tidak om. mayoritas mb dari sana = mb aceh/medan pada umumnya tapi terkadang dapat yang ginian

MB ini bukan termasuk blackt tail menurut saya  krn 4 ekor putihnya warnanya dominan putih 

Secara umum kualitas mental tempur MB ekor hitam sangat bagus dan bersuara tembus, melengking hanya saja minusnya sering ngeban dan ngukluk yang diulang ulang , tapi dengan seiring bertambah usia mapannya MB tersebut akan makin stabil dalam berolah vokalnya. Terbukti sekarang sudah mulai banyak MB ekor hitam yang tampil dan juara di ajang kontes MB Nasional . Jadi tetap semangatlah walau anda memiliki MB yang sebelumnya dianak tiri kan dan dibilang MB murahan tapi dengan seiring waktu terjawab sudah kehebatan MB ekor Hitam ini yang mampu turun 3 sesi dalam lomba


Sumber : Komunitas Black tail (ismu Ista) dan Master Correy Cosmogony

Jumat, 02 Maret 2012

Design2 Bikinan Gw


























































































Mengenal Murai batu



Murai Batu (White-rumped Shama )

Nama ilmiah: Copsychus malabaricus
Keluarga: Muscicapidae
Ordo: Passeriformes
Kelas: Aves

KARAKTERISTIK FISIK:
White-rumped Shama biasanya memiliki  berat antara 28 dan 32 gram (1-1,2 ons) dan ukuran panjang sekitar 25 cm (10 inci). Burung ini terliat dan ekor panjang dengan tersusun rapi antara panjang dan pendek. Murai Jantan berwana  hitam mengkilap dengan perut coklat dan bulu putih di pantat dan bagian terluar dari ekor.  Betina umumnya lebih kecil daripada jantan, dan memiliki warna cokelat keabu-abuan (kusam) dengan perut berwarna terang. Baik pria dan wanita memiliki ekor  hitam dengan kaki berwarna merah muda. Remaja memiliki ekor yang lebih pendek dan warna yang lebih keabu-abuan atau kecoklatan mirip dengan perempuan, yang hampir sama dengan dada bintik-bintik hitam (trotol). Karakteristik khusus dari murai batu  adalah lagu merdu, yang juga membuatnya unik dikenali. Karakteristik unik lainnya dari hewan ini termasuk pola yang berbeda  pada ekor  yang berwana putih  dan sering memiliki  serta perilaku yang berulang menaikan ekor secara  tiba-tiba dan menurunkan secara pelan.

DISTRIBUSI DAN HABITAT:
Distribusi geografis dari Murai Batu habitat aslinya meliputi beberapa negara di Asia Selatan: India, Nepal, Myanmar, Sri Lanka, Kepulauan Andaman, Malaysia, Vietnam, Laos, Cina, Indonesia dan Thailand. Hewan ini diperkenalkan ke Kauai pada tahun 1931, Oahu pada tahun 1940, dan Maui di bagian akhir tahun 1900-an. Mereka cenderung membuat  sarang di dekat tanah di semak atau pohon-pohon berdaun lebar rendah hutan lebat dataran rendah atau kaki bukit, terutama di hutan bambu dan kayu jati. Di Kalimantan juga sering dijumpai di hutan – hutan rotan yang menjalar.


PERILAKU:
Murai Batu mencari makan  di dasar hutan selama sore hari. Mereka sangat teritorial, dan ukuran ekor dapat menentukan ukuran wilayah, dengan ekor burung lebih besar memiliki wilayah yang lebih besar. Wilayah termasuk sepasang jantan dan betina  selama musim kawin dengan jantan bertugas menjaga wilayahnya.  Jantan dan betina mungkin dapat memiliki wilayah yang terpisah ketika  tidak musim kawin, karana pada pengamatan pada saat tidak kawin, jantan  menunjukkan agresif terhadap betina. Murai Batu  adalah burung penyanyi terkenal dengan luas dan catatan lagu yang keras, merdu dan melengking. Mereka dikenal  pandai untuk meniru panggilan burung lainnya. Suara betina  kurang vokal dibanding jantani dan nyanyianya  dalam hubungannya masa perkawinan. Jantan dan betina muda  membuat suara  kretekan kasar  ketika  stress atau atau saat terbang di atas daerah terbuka. Burung-burung ini adalah monogami dan berkembang biak antara Maret dan Agustus selama atau setelah musim hujan ketika makanan lebih banyak, seperti selama musim hujan di India. Perkembangbiakan  juga mungkin dapat dipicu dalam reaksi terhadap panjang hari, seperti pada hari-hari lebih panjang pada suatu tahun. Selama pacaran, jantan mengejar perempuan, turun di atas perempuan, memberikan panggilan melengking, lalu menggerakkan- gerakkan bulu ekor seperti  kipas.  Ini diikuti dengan pola penerbangan naik dan turun oleh kedua jantan dan berina  dengan ekor  seperti  kipas, tetapi pada jantan sering tidaka membuat gerakan seperti kipas ini. Bila betina tidak ingin, akan mengancam jantan dengan menunjuk dengan mulut mereka terbuka. Burung ini biasanya penakut dan jarang terlihat dari pandangan, dan mereka terutama aktif di pagi dan sore hari , saat itu mereka dapat dilihat terbang  atau bertengger di tangkai.

MAKANAN
Murai batu di alam memakan  serangga (seperti belalang, rayap, belatung, ulat) dan buah. Burung muda muda terutama makan serangga dan cacing tanah.

REPRODUKSI DAN PERTUMBUHAN:
Burung-burung ini mungkin lebih produktif selama puncak musim kawin.  Bila mereka mendapatkan  pasokan makanan yang lebih baik juga lebih produktif. Mungkin ada 1-2 sarang per musim berkembang biak, dan  masing-masing mungkin berisi 3-5 telur. Kedua indukan jantan dan betina  berperan semala  berkembang biak. Betina membangun sarang dari akar, daun, dan batang pakis. Setelah sarang jadi mereka akan melakukan kopulasi, yang terjadi beberapa kali, biasanya jantan akan rajin berkicau dengan semangat sebelum kawin. Membangun sarang 2-3 hari.  Inkubasi (pengeraman)  berlangsung antara 12-15 hari dan dapat dilakukan oleh betina dan keduanya, tergantung karakter pasangan.  Waktu antara membangun sarang dan bertelur biasanya sekitar  5 dan 7 hari. Satu telur diletakkan per hari, namun semua telur biasanya menetas pada hari yang sama selama jam-jam pagi. Telur-telur berwarna terang bila di terawang di cahaya,  dengan cangkang kebiruan,  bintik-bintik berwarna coklat kemerahan, dan ukuran sekitar 17 hingga 22 milimeter (0,7 sebesar 0,9 inci). Piyikan belum membuka mata  dan berbulu. Mata terbuka setelah 6 hari dan bulu sepenuhnya  berkembang  setelah 11 hari, setelah itu disebut trotolan dan murai remaja ini mulai bersolek dan berani mandi.  Kedua indukan berpartisipasi dalam membuang kotoran dari sarang dan memberi makan piyikan. Dalam satu studi, tingkat kelangsungan hidup sekitar  70% dalam 10 hari pertama setelah menetas dan tingkat kelangsungan hidup  murai muda yang mulai keluar sarang adalah antara 65-83 %, dengan keberhasilan yang lebih besar dalam anak-anak kedua. Ada angka kematian lebih besar selama hari-hari terakhir mereka keluar dari sarang. Selama delapan hari pertama,  berat piyik meningkar  hampir dua kali lipat setiap hari. Ini kemudian  diikuti dengan penurunan yang signifikan dalam tingkat pertumbuhan. Pada hari ke-10, piyikan  umumnya berukuran antara 70-80% dari berat dewasa.  Mulai meninggal kan sarang  pada  12-13 hari setelah menetas, dan remaja dapat makan secara  mandiri 26 hari setelah menetas
  • Burung murai batu (Copychus malabaricus) adalah anggota keluarga Turdidae. Burung keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan berkicau yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi. Ketenaran burung murai batu bukan hanya sekedar dari suaranya yang merdu, namum juga gaya bertarungnya yang sangat aktraktif. Disamping itu juga memiliki kecerdasan yang baik sehingga dapat beradaptasi secara baik dan dilatih menirukan burung-burung master lain.
Penyebaran murai murai batu di Indonesai terdapat di Sumatra, Jawa, Kalimantan dan pulau-pulau kecil seperti di Sabang, Riau, Nias. Yang membedakan adalah ukuran burung, ekor, kemampuan berkicau dan ciri-ciri spesifik masing-masin daerah
Jenis-jenis murai batu yang dikenal di Indonesia adalah sebagai berikut:
  1. Murai batu Medan, Bukit Lawang, Bohorok, kaki gunung Leuser wilayah Sumatra Utara. Panjang ekor 27 – 30 cm. Sebenarnya sendiri tidak ada murai yang berasal dari kota Medan, tetapi daerah-daerah sekitarnya. Tetapi sebutan murai Medan tersebut sudah sangat melekat dengan ciri-ciri spesifiknya.
  2. Murai batu Sabang, dari Pulau Sabang, Panjang ekor 27-30 cm
  3. Murai batu Aceh, di kaki Gunung Leuser wilayah Aceh. Panjang ekor 25 – 30 cm.
  4. Murai batu Nias, panjang ekor 20 – 25 cm. Ekor keseluruhan berwarna hitam
  5. Murai batu Jambi, hidup di Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi.
  6. Muraibatu Lampung, hidup di Krakatau, Lampung. Ukuran tubuh lebih besar dari Murai Medan. Panjang ekor 15 – 20 cm.
  7. Murai batu Banjar (Borneo), jenis ini paling populer di Kalimantan, karena sering merajai berbagai lomba di Kalimantan. Penyebaran di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Panjang ekor 10 – 12 cm.
  8. Murai batu Palangka (Borneo), panjang ekor 15 – 18 cm. Hidup di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
  9. Larwo (Murai Jawa), hidup di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tubuh jauh lebih kecil dari murai medan. Jenis ini sudah sangat langka ditemukan. Panjang ekor 8 – 10 cm. Selain dari 8 sub-spesies murai batu di atas, masih ada murai batu yang berasal dari negeri tetangga, yaitu :
  1. Murai batu Malaysia, wilayah Penang. Ekor tipis dan panjang sekitar 30 – 33 cm dan postur tubuh lebih besar dari murai Medan.
  2. Murai batu Thailand, hidup di perbatasan Thailand dan Malaysia, tubuh lebih besar dari murai medan, panjang ekor 32 – 35 cm dan warna hitam mengkilat indigo (kebiru-biruan).
  3. Murai batu Pilipina, wilayah Luzon dan Catanduanes. Jenis ini lebih tepat disebut murai hias, karena memiliki warna tubuh yang sangat indah.
Seaca taxonomi, murai batu serta kerabatnya dikelompokkan dalam beberapa species, sebagai berikut: Copsychus malabaricus (White Rumped Shama),Copsychus luzoniensis (White Browed Shama), Copsychus niger (White Vented Shama),Copsychus cebuensis (Black Shama), Trichixos pyrropygus (Orange Tailed Shama / Rufous Tailed Shama).
Subspecies, ciri-ciri dan penyebara murai tersebut sebagai berikut:
A. Copsychus malabaricus (White Rumped Shama) terdiri dari 19 sub-species:
  • Copsychus interpositus (Nepal, India, Myanmar, Yunan -China, Thailand dan Indochina)








  • Copsychus stricklandii (Sabah, Kalimantan)
  • Copsychus andamanensis (Andaman, Nicobar)
  • Copsychus albiventris (Andaman)
  • Copsychus indicus (Nepal, Indochina)
  • Copsychus pellogynus (Myanmar, Peninsular)

  • Copsychus minor (Hainan-China)
  • Copsychus mallopercnus (Malaysia)
  • Copsychus javanus (Jawa Barat dan Jawa Tengah)
  • Copsychus omissus
  • Copsychus barbouri (Maratua, Kalimantan Timur)
  • Copsychus leggei (Sri Lanka)
  • Copsychus malabaricus (India)
  • Copsychus macrourus (Con Son, Vietnam Selatan)
  • Copsychus tricolor (Malaysia, Sumatra, Natuna Island dan Anamba)
  • Copsychus melanurus (Sumatra bagian Barat, Enggano)
  • Copsychus suavis (Sarawak, Kalimantan)
  • Copsychus mirabilis (Prinsen Island)
  • Copsychus nigricauda (Kangean Island)
B. Copsychus luzoniensis (White Browed Shama) terdiri dari 4 subspecies, yaitu :
  • Copsychus luzoniensis (Luzon, Catanduanes)

  • Copsychus parvimaculatus (Polillo)
  • Copsychus shemleyi (Marinduque)
  • Copsychus superciliaris (Masbate, Negros, Panay, Ticao).
C.  Copsychus niger (White Vented Shama): Tersebar di Palawan, Calamian, Balabac, Sabang (Philipian).
D. Copsychus cebuensis (Black Shama): Hidup di wilayah Cebu Philippines.
E. Trichixos pyrropygus (Orange Tailed Shama / Rufous Tailed Shama): Penyebaran di Way Kambas, Thailand, Malaysia dan Borneo.
Demikian sekilas pengenalan tentang murai batu. Bila ada informasi tambahan semoga bisa dilakukan pembaharuan.